Minggu, November 26, 2006

PARADOKS POLITIK GOLKAR

Oleh: Abdul Gafur Sangadji
Dimuat di TEMPO (Rabu, 22 November 2006)


SPEKULASI itu terjawab sudah: alih-alih menarik dukungannya kepada pemerintah, Golkar malah memantapkan dirinya sebagai partai "pendukung mati" pemerintah Yudhoyono-Kalla. Kira-kira itu yang bisa disimpulkan dari hasil Rapat Pimpinan Nasional II, yang berlangsung pada 13-16 November lalu. Wacana menarik dukungan kepada pemerintah tak lebih dari pemanis Rapimnas, sekadar gertak politik yang sudah tertebak sebelumnya. Rapimnas pun akhirnya tak menghasilkan sesuatu yang baru. Sebaliknya, kian menegaskan Golkar sebagai partai konservatif yang piawai bermain politik. Cerdas memainkan wacana, tapi tak konsisten memperjuangkannya.

Dalam konteks ini, kita tengah menonton sebuah drama politik. Drama yang dimainkan oleh aktor kawakan dengan kemampuan akting yang tinggi, tapi sungguh tak mewakili realitas. Skenario drama dikonstruksi sedemikian rupa lewat cerita ini dan itu, tapi amat jauh dari apa yang seharusnya dimainkan. Lewat kemampuan retoris, cerita dikonstruksi mengikuti skenario kepentingan. Politik pun direduksi sebagai seni memungkinkan segala hal. Tak ada yang tak mungkin dalam politik. Segala hal sewaktu-waktu bisa berubah drastis mengikuti kepentingan, lobi, kompromi, dan negosiasi. Dari lawan menjadi kawan dan dari penentang menjadi pendukung. Mengapa demikian? Sebab, hukum politik tak mengenal lawan dan kawan abadi, hanya satu yang abadi: kepentingan.

Itulah Golkar. Kalau tak cerdas memainkan politik seperti bola yang bisa ditendang sana-sini, tentu bukan Golkar namanya. Sebagai partai lama, Golkar tahu persis bagaimana meningkatkan posisi tawarnya dengan rezim yang berkuasa. Seninya ada pada kemampuan kompromi dan lobi. "Gertak sambal" lantas menjadi instrumen kompromi dan lobi. Lewat gertakan, pemerintah hendak diancam. Terlihat amat terang-benderang ketika pada awal-awal muncul polemik tentang Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R) yang dibentuk Presiden melalui Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2006. Golkar bereaksi begitu keras hingga ancaman menarik dukungan pun menjadi bola yang terus menggelinding di menit-menit awal, tapi sayangnya, gertakan itu kandas di babak terakhir Rapimnas.

Sebenarnya, tak terlalu aneh dan mengagetkan kalau Rapimnas tak mengubah haluan Golkar dari partai pendukung menjadi partai penentang. Rapimnas, sebagai forum tertinggi kedua partai setelah musyawarah nasional, hanya memberi keabsahan formal bagi proses politik di luar layar kaca yang sudah terjadi sebelumnya. Sebagaimana kita tahu, pada 9 November sebelum Rapimnas digelar, Yudhoyono memberikan keterangan persnya di Istana Negara, yang intinya UKP3R tak akan diendapkan, apalagi dibubarkan, sebagaimana desakan beberapa fungsionaris Golkar, seperti Ketua Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi Dewan Pimpinan Pusat Golkar Yuddy Chrisnandi.

Pernyataan Presiden itu buah dari kompromi kubu Yudhoyono dengan Kalla yang langsung mengubah peta politik. Lobi itu menjadi ampuh ketika pada malam harinya, pada tanggal yang sama dengan keterangan pers Presiden, dalam sebuah rapat harian DPP Golkar, Kalla meminta polemik UKP3R tak dilanjutkan oleh fungsionaris yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah. Pertanyaan pun layak diajukan: kenapa Golkar begitu cepat mengubah arah politiknya dari penentang menjadi pendukung UKP3R? Jawabannya terletak pada seberapa besar akomodasi politik Yudhoyono. Sebab, polemik Golkar dengan Yudhoyono dan Demokrat sesungguhnya tak berkisar pada ketidakikutsertaan Kalla dalam pembentukan UKP3R, tapi pengalihan akomodasi politik Yudhoyono yang dianggap merugikan Golkar.

Oleh Presiden, UKP3R dibentuk sebagai unit kerja untuk melakukan percepatan reformasi politik di lima bidang: investasi, usaha kecil-menengah, aparatur pemerintah, badan usaha milik negara, dan penegakan hukum. Berarti kehadiran UKP3R menutup kemungkinan reshuffle kabinet yang sudah lama didesak Golkar. Tapi itulah politik. Haluannya hanya pada kepentingan. Setelah Yudhoyono memberi jaminan reshuffle kabinet sekitar Maret 2007, Golkar pun langsung dibuat jinak. Dengan demikian, Rapimnas kali ini tak menghasilkan sesuatu yang baru kecuali memperkuat posisi tawarnya di depan Yudhoyono untuk tambahan jatah menteri. Fenomena ini menggarisbawahi bahwa dalam politik dukungan menjadi sesuatu yang komersial, dijual dengan imbalan. Dukungan tentu harus dibayar dengan akomodasi. Sebab, tak ada yang gratis dalam politik.

Paradoks
Tak konsistennya Golkar dalam Rapimnas, cenderung kompromistis, dan pragmatis, menguatkan dugaan bahwa politik kita memang penuh paradoks. Dan Golkar menjadi salah satu partai yang memainkan paradoks itu dengan sangat baik. Paradoks politik Golkar tertegas dengan sangat baik ketika Golkar kerap tampil garang terhadap pemerintah, tapi gampang dibujuk setelah itu. Paradoks lain terjelaskan dari wacana penghapusan konvensi partai untuk penjaringan calon presiden pada Pemilu 2009.

Di sela-sela Rapimnas yang lalu, Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla membuat sebuah pernyataan politik yang paradoks. Menurut Kalla, ada kemungkinan konvensi calon presiden untuk Pemilu 2009 tak akan digelar karena bukan saja tak efektif, mengingat calon presiden hasil konvensi Pemilu 2004 kalah dalam pertarungan pemilihan presiden, melainkan juga menguras energi partai. Pernyataan ini tentu amat paradoks dengan cita-cita Golkar menguatkan pilar-pilar demokrasi. Pilar demokrasi akan kukuh kalau proses rekrutmen presiden dilakukan seperti yang sudah dipraktekkan Golkar pada Pemilu 2004. Konvensi barangkali menjadi pilihan yang tepat, seperti yang dilakukan mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung. Lewat konvensi, partai menyediakan ruang bagi siapa saja yang terlibat aktif dalam proses politik, mencalonkan diri sebagai presiden kalau memang layak.

Tapi paradoks pun muncul. Kalla melihat konvensi dari perspektif lain bukan sebuah mekanisme yang layak untuk memantapkan Golkar sebagai partai modern yang terbuka dan demokratis. Dengan demikian, memang Golkar di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla lagi-lagi tak menghadirkan sesuatu yang baru. Golkar malah ingin diseret jauh dari substansi demokrasi lewat sejumlah paradoks politik.

Absurditas partai tengah
Hal lain yang juga krusial untuk dikritik adalah posisi politik Golkar yang absurd. Di satu pihak, Golkar adalah partai pendukung, walau Golkar tak mengusung pasangan Yudhoyono-Kalla dalam Pemilu Presiden 2004, di pihak lain Golkar kerap tampil sebagai partai penentang pemerintah yang tak kalah kerasnya seperti partai oposisi. Persis di sinilah letak absurditas "partai tengah" yang diusung Golkar. Golkar terjebak di antara dua kepentingan yang saling bertentangan: bagaimana menjadi bagian dari pemerintah dengan keharusan tampil sebagai partai pendukung yang siap membela kebijakan, atau menjadi partai oposisi yang siap melawan pemerintah dalam rangka menguatkan mekanisme check and balances di parlemen.

Dalam konsepsi "partai tengah" yang diusung Golkar, posisi partai diletakkan dalam dua arus kepentingan utama itu: bagaimana menjadi mitra pemerintah yang baik sekaligus memainkan peran kritisnya sebagai partai pengawas. Konsepsi inilah yang, menurut saya, absurd karena peran keduanya saling menegasi. Dalam praktek politik, partai pendukung biasanya menjadi bumper di parlemen. Adapun partai pengawas adalah partai oposisi yang berhadapan langsung dengan partai pendukung pemerintah. Persoalannya, Golkar memainkan kedua peran ini secara sekaligus.

Jika ingin menjadi partai pendukung yang konsisten, sebagaimana hasil Rapimnas, Golkar harus memainkan peran itu dengan baik. Tak perlu bermanuver seolah-olah kritis terhadap pemerintah, semisal polemik Golkar dengan Yudhoyono dan Demokrat dalam kasus UKP3R, karena kenyataannya, Golkar bisa dibujuk lewat kompromi. Inilah paradoks politik Golkar.

Tidak ada komentar: