
Oleh: ABDUL GAFUR SANGADJI,
Dimuat di TEMPO (Sabtu, 03 Maret 2007)
Pemilihan presiden di Amerika Serikat baru akan berlangsung pada 2008. Tapi suhu politik merebut "kursi panas" sudah mulai tampak memanas. Kompetisi ketat meraih jabatan presiden membuat tiap kandidat dari kedua partai (Demokrat dan Republik) sibuk mensosialisasi diri dan beradu popularitas untuk merebut dukungan.
Maklum, kemenangan seorang kandidat ditentukan oleh banyak variabel: kemampuan personal, dana, jaringan, latar belakang agama dan warna kulit, iklim politik, isu, mesin kampanye, dan dinamika jajak pendapat. Siapa pun yang mampu memiliki semua sumber daya politik tersebut, peluangnya terbuka lebar tampil sebagai pemenang. Lantas, semudah itukah langkah menuju Gedung Putih? Tentu jalan masih panjang, tapi satu hal yang pasti adalah pertarungan sudah dimulai.
Berita politik di Negeri Abang Sam dominan diisi oleh aktivitas politik tiap kandidat. Tak itu saja, tanggapan publik mengemuka secara beragam terhadap para kandidat. Dari kubu Partai Demokrat, muncul dua kandidat kuat: Hillary Clinton dan Barack Obama. Sedangkan kubu Republik ada kemungkinan mencalonkan Senator John McCain. Namun, yang menarik adalah mencermati langkah calon dari Demokrat. Pencalonan dua tokoh Demokrat itu tak ayal menarik perhatian kalangan di Amerika. Hillary maju sebagai calon presiden perempuan yang mencengangkan. Sebab, jika terpilih, ia menjadi presiden perempuan pertama dalam sejarah politik Amerika.
Selain langkah Hillary yang dinilai luar biasa, bintang Barack Obama tak kalah pamor. Tak sampai satu dekade sejak "turun gunung" dari profesi dosen hukum dan masuk Senat tingkat negara bagian, karier politiknya terus menanjak. Kini senator yang baru dua tahun mewakili Illinois di Washington itu langsung menggebrak bursa kandidat Partai Demokrat. Dan andaikan terpilih, Obama menjadi presiden kulit hitam pertama. Karena itu, bursa calon presiden dari Demokrat kali ini dinilai paling unik sepanjang sejarah partai tersebut lantaran pencalonan Hillary, yang mewakili kaum perempuan, dan Obama, yang merepresentasikan kaum kulit hitam.
Fenomena Obama
Bukan Hillary Clinton, melainkan Barack Obama yang diprediksi oleh majalah Time sebagai a leading US presidential prospect. Karena, menurut Time, Obama merupakan fenomena baru dalam politik Amerika. Ia dianggap mewakili generasi baru politisi Amerika yang datang membawa gagasan-gagasan baru yang segar, walau terkadang ia dianggap cukup radikal. Tak jauh beda dengan Time, menurut editorial The Washington Post, hal yang membuat sosok Obama menarik adalah pemikirannya untuk mengubah paradigma politik Amerika yang selama ini sangat rasial. Dengan wacana multikulturalismenya, Obama ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah negara yang menghargai perbedaan kelompok etnis dan agama.
Sebagai pembela multikulturalisme, Obama tampak berani menyebut dirinya sebagai putra birasial, yakni berayah seorang Kenya kulit hitam dan beribu seorang Amerika berkulit putih. Jika dibandingkan dengan Hillary, Obama memang kalah jauh dari sisi dana, jaringan, tim kampanye, dan pengalaman politik. Walau begitu, dengan usia yang masih belia di pentas politik, Richard Brookhiser, seorang sejarawan Amerika, optimistis bahwa Obama memiliki peluang. Richard menulis di majalah Time (29/1): Obama may have not much political experience, but not all US Presidents need it. Lebih lanjut lagi, menurut Richard, dengan modal popularitas dan minim pengalaman, Obama tetap memiliki kans bertarung di pemilu presiden pada 2008 nanti.
Karena itu, fenomena Obama begitu menarik untuk diamati. Pencalonan dirinya dinilai sebagai langkah berani menutup sejarah panjang rasisme di Amerika.
Ia memang tak datang dari politik mainstream (White, Anglo-Saxon, dan Protestant)--dibandingkan dengan Hillary yang mewakili mainstream--tapi tokoh ini bersinar karena gagasan-gagasan kritisnya. Dengan modal berani, ia menampilkan dirinya sebagai pengkritik vokal kebijakan invasi Amerika ke Irak di bawah kepemimpinan Bush. Ini berbeda dengan Hillary, yang cenderung menerima kebijakan invasi.
Meski tudingan miring atas dirinya sedang mengemuka, kalangan Demokrat dari kubu kiri ataupun kanan menyebutnya sebagai kekuatan baru. Kekaguman kepada sosok Obama yang berani tampil sebagai calon presiden juga datang dari kubu Republik. Bahkan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice, perempuan kulit hitam pertama yang menjadi Menteri Luar Negeri, memuji Obama. Ia bukan saja wakil kulit hitam, tapi lebih dari itu pencalonannya adalah pertanda kondisi warga Amerika yang sudah mulai berdamai dengan perbedaan.
Demokrat versus Republik
Ada pertanyaan besar yang belakangan muncul di Amerika: bagaimana peluang kubu Demokrat menghadapi Republik? Jika melihat tren jajak pendapat di Amerika, tampak kubu Demokrat memiliki peluang menang. Kita lihat, misalnya, jajak pendapat Newsweek. Kedua calon presiden terpopuler dari kubu Demokrat (Hillary dan Obama), jika diadu dengan calon dari Republik, peluangnya lebih besar. Jika Hillary bersaing dengan Senator John McCain dari Partai Republik, Hillary unggul 48 persen sementara John McCain 47 persen. Begitu juga jika Obama bertarung dengan John McCain, peluang Obama 46 persen dan John McCain 44 persen.
Ada pertanyaan besar yang belakangan muncul di Amerika: bagaimana peluang kubu Demokrat menghadapi Republik? Jika melihat tren jajak pendapat di Amerika, tampak kubu Demokrat memiliki peluang menang. Kita lihat, misalnya, jajak pendapat Newsweek. Kedua calon presiden terpopuler dari kubu Demokrat (Hillary dan Obama), jika diadu dengan calon dari Republik, peluangnya lebih besar. Jika Hillary bersaing dengan Senator John McCain dari Partai Republik, Hillary unggul 48 persen sementara John McCain 47 persen. Begitu juga jika Obama bertarung dengan John McCain, peluang Obama 46 persen dan John McCain 44 persen.
Lalu, apa yang membuat kandidat Demokrat lebih unggul dibanding kandidat Republik? Kebijakan invasi Irak yang dinilai gagal oleh warga Amerika adalah faktor utama rontoknya popularitas Republik. Hal ini sudah tampak ketika pemilu sela untuk memilih anggota Kongres pada 7 November lalu. Partai Republik dihajar oleh Partai Demokrat sehingga Kongres dikuasai kubu Demokrat. Kebijakan invasi Irak memang sudah tidak populer lagi di mata rakyat Amerika. Selain dianggap sebagai kebijakan yang terlalu egoistis, masuknya tentara Amerika ke Irak ternyata tidak membawa perubahan berarti bagi Irak dan menimbulkan korban jiwa di kalangan rakyat Irak dan tentara Amerika sendiri.
Kondisi ini menguntungkan Demokrat, karena Demokrat dinilai lebih menghormati hak asasi manusia lewat kritikan kerasnya selama ini. Sebagai partai yang mengusung ideologi liberal, Partai Demokrat lebih lunak dalam kebijakan politik luar negeri. Hal ini terlihat dalam kepemimpinan Bill Clinton yang tidak begitu "keras" ketika menangani krisis Timur Tengah (konflik Palestina-Israel). Ini berbeda dengan kepemimpinan Bush yang cenderung konservatif. Selama ini, Bush cenderung menonjolkan nasionalisme Amerika yang sempit sehingga mengabaikan hukum dan konsensus internasional. Memang, bagi warga Amerika, tragedi 9/11 adalah pukulan telak bagi Amerika, tapi belakangan perang melawan terorisme global dinilai menabrak batas nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itu, isu Irak adalah peluang bagi Hillary ataupun Obama untuk menghajar kandidat Republik. Tapi, mampukah kubu Demokrat mengungguli Republik pada 2008? Jika melihat variabel yang ada--popularitas personal, isu, orientasi warga Amerika, dan jajak pendapat--tampak Demokrat di atas angin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar